Membangun Jembatan

Membangun Jembatan


Senyum adalah jembatan yang menghubungkan antara dua mata.

Kalimat yang santun dan baik adalah jembatan yang menghubungkan antara dua telinga.

Maka, jangan ragu-ragu membangun jembatanΒ setiap hari. Bukan sekadar agar kita selalu terhubung dalam kebaikan, tapi yang lebih penting, agar kita tidak terisolasi dari kebahagiaan.

Tentu bukan hanya desa atau kampung saja yang bisa terpencil, manusia juga bisa disebut ‘manusia terpencil’. Yang sayangnya bukan karena posisi geografisnya, tapi karena dia tidak mau membangun jembatan-jembatan tersebut.

 

*Tere Liye

Titipan Terindah [Pre Resensi]

Titipan Terindah [Pre Resensi]


Jazakillaah mbak Nina. Saya tunggu buku mbak Nina yahπŸ™‚ Barakallahu fiiki :*

nina little light

Judulnya pre resensi, hihi. Soalnya bukunya masih pre order :p.
Malam ini, datang kabar sebuah buku yang ditulis seorang kawan satu kampus dahuluπŸ™‚ Namanya mba Dyah Kumala Sari.
Pernah satu kosan saat kerja praktek di pertamina. Baik, rajin, rapi, penuh semangat. Saya dulu terkesan betul dengan kerajinan beliau. Hal yg saya ingat dari beliau adalah : bahwa semua bisa dipelajari. Kuncinya adalah rajin. *masih inget percakapan ketika masa ketik-ketik laporan KP, beliau yang hafal dan jago betul ama Ms Word dan saya yg masih acakadut krna males belajar :p*
Buku ini berkisah tentang kisah hidup beliau. Ketika membaca status FB nya ttg buku ini, beliau mengungkapkan bahwa ini adalah cita-citanya, menulis satu buku sebelum mati. Sama seperti yg diungkapkan mbak Asma Nadia, menulislah untuk keabadian. Satu buku sebelum mati. Sama seperti cita-cita saya juga, yang semoga bisa terkabul. #makanya rajin dong nin hehe #
Barakallah Mba Dyah. Semoga setiap…

View original post 9 more words

Terjebak Nuklir

Terjebak Nuklir


Terjebak Nuklir 2
Mind MapΒ “Terjebak Nuklir”πŸ˜€

Taraaa, akhirnya saya kembali menulisπŸ˜€ Untuk istiqomah menulis memang tidak mudah, guys. Hmm… godaannya sesuatu lho… Okay sahabat, kali ini saya menulis karena sebenarnya sedang ada tugas dari Kelas Menulis Online a.k.a KMO yang dimotori oleh coach Tendi and the gank. Hehe.

Nah, pada tugas kali ini, siswa diminta menulis tentang outline yang telah dikumpulkan pada tugas sebelumnya. Oh iya, ini adalah tugas ketiga. Hmm, kalau nggak gini juga kayaknya belum tentu saya nulis. Mungkin ini yang namanya The Power of Kepekso.. HeheheπŸ˜›

Baiklah, langsung saja yah… Jadi begini, kemarin siswa diminta untuk membuat outline calon buku impian mereka. Nah, di sana saya merasa bambang, ehh bimbang, lha wong si Titipan Terindah aja masih revisi sana-sini, tapi malah sudah mau beranjak ke yang lain. Ealah, Dy! Sudah terlanjur ikutan, eman-eman, alias sayang kalau kesempatan belajar di sini dibiarkan begitu saja, iya kan?

Tenang, sahabat, si Titipan Terindah tetep on the right track, kok. Insyaa Allah. So, tetap sabar menunggu yah… Insyaa Allah akan hadir di saat terindah, biidznillaah.πŸ™‚

Back to KMO dulu yak. Nah, karena saya sendiri bingung ide apa yang akan dituangkan, jadi saja muncul di kepala satu kata yang fenomenal: Nuklir! Mungkin terlalu berani ya ketika saya mengambil ide ini. Secara, saya juga posisinya masih belajar tentang nuklir tapi sudah berani mau nulis tentang nuklir. Tenang-tenang, saya akan menceritakan nuklir versi seorang Dykuza yah. Tujuannya agar sahabat semua tidak takut lagi sama yang namanya nuklir. *Semogaaaaa* Inginnya sih mengulas pengalaman saya yang notabene pernah jadi mahasiswa di bidang nuklir. Okay, izinkan saya sedikit share tentang perjalanan saya bersama si nuklir yah, Sahabat semuanya…

β™₯Β β™₯Β β™₯

Hidup itu Pilihan

Pernahkah teman-teman mendengar kalimat ini? Saya rasa sudah sering mungkin ya… Yap, terkadang dalam hidup kita dihadapkan dengan berbagai macam pilihan. Pilihan untuk sedih atau bahagia, susah atau senang, ingin menjadi dokter atau insinyur, ingin kuliah atau bekerja, dan masih buanyaaak lagi pilihan-pilihan lainnya yang jumlahnya bisa jadi tak terhingga.

Yap, karena hidup memang menawarkan berbagai macam pilihan, guys. Seringkali dengan adanya berbagai rupa dan warna pilihan tersebut, kita justru menjadi bingung sendiri. Nah, tugas kita nih ya, bisakah kita menjadi seseorang yang arif dan bijak dalam menyikapi pilihan hidup kita?

Masa Putih Abu-abu

Pernah merasakan menjadi seorang mahasiswa? Atau minimal siswa deh. Eh, tapi sejatinya kita itu semuanya adalah seorang siswa lho… Siswa di Universitas Kehidupan, betul kan? Hehehe…

Back to siswa, khususnya siswa yang kelasnya sudah β€˜maha’. Sebelum menjadi siswa yang β€˜maha’ itu, kira-kira teman-teman harus melewati masa apa dulu nih? Jawabannya adalah masa putih abu-abu, betul apa betul banget? Ini saya sedang bercerita tentang dunia pendidikan di Indonesia lho ya… Karena mungkin saja di luar sana disebutnya bukan putih abu-abuπŸ˜€

Nah, biasanya para siswa di grade putih abu-abu itu seringkali mengalami kebimbangan. Bahasa kerennya β€˜gegana’. Gelisah, galau dan merana. Ckck, kasihan juga ya… Kalau di kelas 1 SMA atau sekarang kelas X, mungkin mulai galau ketika akan naik ke kelas XI, galau menentukan jurursan: IPA atau IPS. Nah, saya pun pernah mengalaminya. Bagaimana dengan kalian, guys?

Kegalauan akan memuncak ketika kita menduduki tingkat teratas. Yap, kelas XII. Biasanya para siswa bakalan galau untuk memilih jurusan kuliah. Pun dengan saya. Saya adalah seseorang yang bercita ingin menjadi seorang dokter lho… Cita-cita mau jadi apa saja tidak ada yang melarang kan?

Nah untuk mewujudkan cita-cita saya, semenjak duduk di kelas X saya sudah ber-azzam untuk memilih IPA ketika penjurusan naik ke kelas XII. Alhamdulillah akhirnya Allah SWT mengizinkan saya untuk masuk ke kelas IPA. Padahal nih ya, hasil tes psikologi menunjukkan bahwa saya direkomendasikan masuk ke jurusan IPS, bukan IPA. Nahloh Dy, kamu terjebak? Hehehe…

Well, saya adalah tipe siswa yang tidak menyukai pelajaran yang menuntut hafalan yang lebih dominan. Karena bisa dipastikan hafalan saya cepat menguap, hanya ingat pada saat ujian saja. *Upssss…

Bimbang Memilih Jurusan Kuliah

Β 

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, kegalauan tingkat dewa akan dirasakan oleh siswa di tingkat terakhir. Galau memilih jurusan kuliah. Galau versi saya adalah ketika diri ini menggebu ingin menjadi seorang dokter. Namun sayangnya, untuk bisa mewujudkannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hey, ini bukan sulap simsalabim ya!

Menjadi seorang dokter adalah impian masa kecil saya, terutama menjadi dokter bedah. Tidak dipungkiri bahwa untuk menjadi dokter membutuhkan perjuangan yang ekstra pedas. Emang saos, Dy? Hehe…

Peluang untuk kuliah di fakultas kedokteran setidaknya ada dua cara, masuk dengan beasiswa alias gretong tapi dengan persyaratan yang ketat atau swadana bagi yang memiliki rezeki memadai. Nah, peluang yang pertama, biasanya untuk siswa-siswi yang memiliki nilai plus, baik secara akademik maupun non akademik. Sedangkan peluang yang kedua sudah jelas lah ya… Hehehe…

Bagaimana dengan saya? Saya tidak memiliki nilai plus di mana-mana. Baik akademik maupun non akademik. Saya mah murid yang biasa-biasa saja. Pernah suatu ketika mencoba mendaftar di fakultas kedokteran sebuah universitas di mana biaya kuliah di universitas tersebut masih bisa dibilang terjangkau bagi keluarga kami. Namun apalah daya, rezeki saya bukan untuk berkuliah di sana, saya ditolak euy. Sedihnyaaa… *lebay

Saya pun mau tidak mau mengikuti ujian masuk universitas dengan pilihan jurusan yang tidak sesuai dengan keinginan saya. Farmasi, Geografi dan Ilmu Komputer. Beda banget, kan? Sudah begitu, ditolak semuanya pula! Hiks… Dan singkat cerita, saya justru akhirnya diterima untuk kuliah di bidang iptek nuklir.

β™₯Β β™₯Β β™₯

Well, intinya nih ya, saya hanya ingin berkisah tentang pengalaman saya sebagai mahasiswi yang berkesempatan mengenyam kuliah di bidang iptek nuklir. Saya, yang awalnya mungkin sama seperti teman-teman yang lainnya, yang tidak tahu apa itu nuklir, yang mungkin tahu tentang nuklir tapi justru ternyata tahu bahwa nuklir itu identik dengan ‘bom’ dan ‘kemandulan’. Seperti itu kah nuklir menurut teman-teman?

Hmm.. Nggak apa-apa kok, lha wong saya dulu juga sempat ditakut-takuti seperti itu. Tapi, ya mau bagaimana lagi, saya mau tidak mau saat itu hanya diterima di STTN-BATAN. Mencoba ikutan tes sana-sini, belum juga lolos. Hehehe. *curcolπŸ™‚

Okay good people, setelah saya menuntut ilmu tentang dunia nuklir, saya baru ngeuh bahwa nuklir tidak sesempit itu! Bahwa ternyata nuklir itu sama saja dengan kita berkendara motor. Lho, kok bisa? Yap, kalau kita mengendarai motor tidak memakai safety helmet, kemudian menerobos traffic light pake ngebut pulaaa, maka apa yang akan terjadi? Yes, peluang kecelakaan akan lebih tinggi, guys. Demikian juga dengan nuklir. Jika tidak digunakan dengan baik dan benar serta bijaksana, maka peluang terjadi ‘kecelakaan’-nya pun akan meningkat.

Setiap hal di dunia ini bukankah sudah ada aturannya masing-masing kan? Sebut saja dengan istilah SOP, Standard Operating Procedure. Tapi bukan sop iga lho ya… *mendadak lapeeer. Hehehe…

Bukankah manusia juga ada ‘SOP’-nya? Saya muslim, maka SOP saya ya sudah tentu Al Qur’an dan sunnah nabi. Kita makan juga ada SOP-nya, kan? Tidak boleh sambil berdiri, jongkok, apalagi sambil bernyanyi dan teriak-teriak. Hehehe…

Okay, setiap sesuatu tercipta pasti ada alasannya. Tidak mungkin Allah SWT yang Maha Baik, Maha Pemurah, menciptakan sesuatu tanpa ada gunanya tho ya? Nah, begitupula dengan nuklir. Insyaa Allah ada alasan kenapa nuklir diciptakan. So, yuk kita sama-sama belajar. Jangan sampai kita gembar-gembor bla-bla-bla, namun kita sendiri belum tahu ilmunya. Belajar itu wajib untuk kita, setiap pribadi muslim.

Nah, belajar, kalau sendirian kan kurang seru. Makanya, kita belajar bareng-bareng yuk. Terutama tentang iptek nuklir, karena nuklir itu untuk kesejahteraan umat, buanyaaak manfaatnya, insyaa Allah.

πŸ™‚

Writing Is Not My Passion

Writing Is Not My Passion


Writing is not my passion.

Menulis. Apa yang teman-teman Β bayangkan ketika mendengar satu kata tersebut? Menulis karena tuntutan tugas kah? Laporan? Makalah, paper, atau bisa saja sekedar menulis ‘dear diary‘ sampai ‘dear‘ yang lainnya. Hehehe.

Writing is not my passion. Yap, saya bukanlah seseorang yang pandai menulis. Why? Simpel saja, karena saya tidak suka membaca dan parahnya nih ya, saya memang tidak dibiasakan untuk menjadi kutu buku sedari kecil. Membaca sedikit saja, nguantuknya minta ampun! Adakah yang pernah merasakan hal yang sama? Kalau ada, kita ‘tos’ dulu! *Tsaaaah, punya temen dah saya. Hihi…

Saya sedari dulu sampai sekarang salut deh sama orang-orang yang rela menyisihkan isi dompetnya untuk sekedar membeli buku. Bahkan, seorang senior saya pernah bercerita bahwa beliau sampai menghabiskan berjuta-juta tabungan beliau hanya untuk membeli setumpuk barang bernama buku.

Wah, malah jadi bahas tentang membaca nih. But, #rapopo, karena menulis eratlah kaitannya dengan membaca. Yup, karena asupan utama seorang penulis adalah buku. Mau nggak mau kalau mau jadi penulis ya kudu baca! Sedangkan saya? Udah membaca saja seringkali diliputi ‘sleepy‘Β yang melanda, bagaimana mau jadi penulis? Ckckck…

Dan sekarang sedikit demi sedikit keinginan membaca mulai muncul. Dulu bahkan pernah bermimpi ingin memiliki minimal satu saja buku karya sendiri. Tapi apalah daya, hanya sebatas keinginan saja. Belum tahu ilmunya dan belum tahu apa alasan yang kuat bahwa saya harus menulis hingga kelak menerbitkan buku karya saya sendiri.

IMG_20150722_192704

Well, writing is not my passion. But, pada akhirnya saya berada di sebuah kondisi yang seolah membisikkan kemudian mendorong saya untuk menulis. Mestakung, semesta mendukung, bisa jadi seperti itu.

Ketika keinginan untuk menulis itu semakin menyala, ada saja cara Allah SWT untuk menuntun saya mewujudkannya. Betapa Maha Baiknya Allah SWT. Kemudian saya berusaha mencari alasan kenapa saya ingin menulis. Dan jawabannya adalah karena saya ingin bermanfaat melalui tulisan saya. Bukankah wasiat Sang Nabi, Rasulullaah, Muhammad SAW itu sangatlah indah, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya.”Β Selain itu, saya juga ingin menjadi abadi melalui tulisan, terlebih ketika raga ini tiada.

Writing is not my passion. Ada seorang bijak yang berpesan bahwa seseorang akan optimal jika melakukan sesuatu sesuai dengan passionnya. Nah, yang menjadi masalah adalah karena menulis itu sama sekali bukan passion saya. Bagaimana bisa saya melakukannya? Melakukan sesuatu yang bukan saya banget. Hehe. Tapi, saya ingin mencobanya, tentunya dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang saya miliki. Mencoba tidak ada salahnya, kan?

Meskipun menulis bukan passion saya, tapi saya ingin belajar untuk menjadi penulis yang bermanfaat. Siapa tahu bisa menjadi tabungan buku amal saya.

Okay, writing is not my passion, but I wanna try to make it as my new passion!

Insyaa Allah bulan Maret 2016 saya ingin menerbitkan buku perdana saya. Mohon doanya ya sahabat semua, semoga karya saya bisa bermanfaat untuk siapapun yang membacanya.

Barakallaahu fiikum.

Bandung, 29 Februari 2016

Dyah Kumala Sari


Sebuah celoteh seorang anak yang tidak suka membaca, tidak dibiasakan membaca sedari kecil. Namun bercita ingin mempunyai minimal satu saja buku. Ckckck..
.
Ditulis ketika mengetahui kenyataan bahwa sungguh kematian itu adalah dekat. Sangatlah dekat. Berharap bisa menambah tabungan buku amalnya.
.
Semoga kamu lahir dengan selamat ya, nak!
.
*masih belum tahu kapan lahirannya..hehehe πŸ˜πŸ˜†πŸ˜…

View on Path