Uncategorized

– with Taushiyah (FULL)

View on Path

Advertisements
Dykuza Dalam Tulisan, Hikmah

Belum Mudik


MUDIK. Satu kata yang membahagiakan bagi seorang anak rantau seperti saya up. Hehe 😀

Beberapa hari terakhir ini jalanan di Kota Kembang mulai sepi di beberapa titik tertentu. Suasana mudik sudah mulai tercium. Efek menjadi anak kos yang tinggal satu atap dengan anak kuliahan adalah nyesek karena lebih sering menjadi penghuni terakhir. Wkwkwk.

Yup, ramadhan kali ini menjadi ramadhan yang banyak saya habiskan di tanah rantau. Jadwal libur yang terlalu mepet dengan liburan. Hmm… But, it’s okay. Tidak ada yang tidak baik kan kalau semuanya adalah rencana dari-Nya? Tenang, Dy, ini adalah rencana terbaik dari Allah, kok. 🙂

Terkadang yang membuat mupeng untuk segera pulang adalah ‘sentilan’ dari orang-orang sekitar kita yang tetiba bertanya, “Kok belum pulang, Dy? Kapan pulang? Wah, mepet banget, ya, pulangnya?” Whoaaaa

“Belum. Saya belum mudik. Masih nanti.”

Hmm, ngomong-ngomong tentang mudik ke kampung halaman, sudah pasti kita akan mempersiapkan segala sesuatunya dari jauh-jauh hari, bukan? Untuk hari-H kapan kita mudik, untuk transportasinya, juga untuk segala macam perbekalannya.

Itu baru persiapan untuk mudik di dunia, bagaimana persiapan untui ‘mudik’ ke kampung halaman? Sudahkah kita mempersiapkannya? Bukankah itu ‘kampung halaman’ kita yang sesungguhnya?

Mungkin saat ini kita belum diberi kesempatan untuk mudik terlebih dahulu karena Allah ingin kita mempersiapkan perbekalan untuk mudik dengan sebaik-baiknya. Bisa jadi, kan?

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

[ QS. Al-An’am (6) : 32 ]
Yogyakarta, 23 Juni 2017 | Dyah Kumala Sari | @dykuza

Sebuah tulisan untuk: #RamadhanInspiratif   #Challenge   #Aksara  #22Ramadhan1438H   #RamadhanBersenyawa   #RamadhanBersenyawa22

Dykuza Dalam Tulisan, Hikmah

Apa Kabar ‘Kereta’ Ramadhanmu?


Dalam sebuah hadits Qudsi Nabi SAW bersabda, “Allah SWT berfirman.. ‘hamba-hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang fardu-fardu, dan mereka terus mendekatkan diri dengan yang sunah sampai Aku mencintai mereka. Kalau Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi mata yang dia gunakan untuk melihat. Menjadi telinga yang dia gunakan untuk mendengar. Menjadi lisan yang dia gunakan untuk bicara. Menjadi tangan yang digunakan untuk bertindak. Menjadi kaki yang dia gunakan untuk melangkah.'”

 (Salim A. Fillah)

 

Tak terasa 2/3 ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Kereta ramadhan telah menempuh 2/3 jarak tempuhnya. Sudahkah kita memaksimalkan sebanyak 2/3 ramadhan yang telah berlalu? Ya Allah, rasa-rasanya diri ini belum mempersembahkan yang terbaik dalam membersamainya. 😦

Ramadhan kali ini sudah seharusnya mengarahkan kita kepada target utama kita: menjadi manusia yang bertakwa. Allah sebenarnya telah menunjukkan rahasia-rahasia-Nya dalam Al-Quran bagaimana cara menjemput ketakwaan. Ya, dalam Al-Quran, petunjuk hidup seluruh hamba-Nya yang beriman. Hanya saja, apakah kita bersedia untuk mengungkapnya? Sudikah kita untuk benar-benar menjemputnya?

Di penghujung perjalanan ramadhan kali ini semoga kita semakin bersemangat untuk berlomba-lomba berjumpa dengan Allah dalam setiap detik sisa usia kita. Melalui petunjuk-petunjuk-Nya dalam Al-Quran yang mulia, dalam penghujung bulan yang penuh kemuliaan.

Sebelum kereta ramadhan ini benar-benar meninggalkan kita, sudah sepantasnya kita bergegas mempersembahkan amalan terbaik untuk-Nya. Karena boleh jadi ini adalah ramadhan terakhir kita. Sebelum kereta ramadhan benar-benar meninggalkan kita untuk sebelas bulan berikutnya. Wallaahu a’lam..

 

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

[ QS. Al-Baqarah (2) : 185 ]

 

Bandung, 20 Juni 2017 | Dyah Kumala Sari | @dykuza

 

Sebuah tulisan untuk: #RamadhanInspiratif   #Challenge   #Aksara  #21Ramadhan1438H   #RamadhanBersenyawa   #RamadhanBersenyawa21

Dykuza Dalam Tulisan, Hikmah

Connecting Happiness


Menjadi orang yang bersyukur adalah menjadi seseorang yang sadar bahwa di sekitar kita ini lautan nikmat Allah yang kita selami bersama-sama. Maka mensyukuri membuat segala sesuatu yang tampak biasa-biasa saja bagi mata yang tidak bersyukur menjadi lebih indah, menjadi lebih agung, menjadi lebih mulia.

(Salim A. Fillah)

Nikmatnya dapat bersenyawa dengan bulan ramadhan sejatinya adalah sebuah kado terindah yang seharusnya tidak kita sia-siakan begitu saja. Sudah sepantasnya kita banyak belajar dari bulan yang mengajarkan kita akan kesyukuran.

Kali ini ramadhan mengajarkan tentang berbagi kebahagiaan. Ya, connecting happiness! Ide menulis tulisan kali ini berasal dari tim JNE yang sedang bagi-bagi takjil di traffic light, tepatnya dari kantong takjilnya yang bertuliskan Connecting Happiness. Hehehe.

Saat itu saya sebenarnya berencana akan ngabuburit di salah satu masjid. Karena riweuh ini itu (hwalah, alasan! Hehe) akhirnya saya berangkatnya agak terlambat, pukul 17.15 WIB. Qadarullaah, jalanan yang biasanya lengang, ternyata lebih macet. Mungkin karena sudah mendekati waktu berbuka. Saya sudah merencanakan untuk melewati jalan biasanya. Namun, ternyata salah satu belokan dijaga oleh polisi karena jalanan cukup padat. Walhasil, saya pun memilih jalan alternatif.

Risikonya adalah, saya akan sampai masjid mepet banget dengan waktu berbuka. Karena minim persiapan, saya pun hanya membawa satu botol air putih untuk berbuka. Alih-alih nanti di masjid bakalan dapat takjil untuk membatalkan, minimal dapat kurma, ternyata sampai sana sudah di-reminder bahwa sepuluh menit lagi azan magrib.

Tapi rencana Allah memang selalu lebih baik. Saya seperti diarahkan oleh Allah untuk melewati jalan yang tidak biasanya saya lalui. Namun, di jalan tersebut ternyata Allah mempertemukan saya dengan para karyawan JNE yang sedang bagi-bagi takjil. Qadarullaah, pas banget berhenti karena lampu menyala warna merah, saya pas berhenti di lini paling depan. Jadi deh langsung dapat kantong takjil. Awalnya ingin minimal dapat kurma untuk membatalkan, karena memang tidak sempat mempersiapkan untuk membawa kurma. Tapi ternyata Allah beri lebih dari sekadar kurma! Karena kantong takjil memang berisi kurma dan ada beberapa snacks. Masyaa Allah. Benar-benar bulan yang penuh berkah! Kebayang nggak kalau sepanjang hari yang kita lalui adalah ramadhan? Ah, indahnyaaaa….

Mungkin pada awalnya kita menggerutu atas pilihan Allah. Ya Allah, kok gini, sih? Kok gitu, sih? Kita tidak pernah tahu bahwa sejatinya Allah telah mempersiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita.

Dan melalui sebuah kantong takjil, saya diajari untuk berbagi kebahagiaan, connecting happiness!

Sahabat, ndak perlu ragu deh sama rezeki kita. Allah udah atur, kok. Kata seorang bijak, “Kita tidak pernah tahu di mana rezeki kita. Akan tetapi, rezeki kita tahu di mana kita berada.”

So, jangan lupa bahagia, ya! Bahagia juga jangan sendirian, jangan lupa bagikan untuk semesta, apalagi di bulan penuh berkah. Selamat berbagi kebahagiaan untuk semesta. Baarakallaahu fiikum.

 

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

 

[ QS. Al-Baqarah (2) : 216 ]

 

Bandung, 18 Juni 2017 | Dyah Kumala Sari | @dykuza

 

Sebuah tulisan untuk: #RamadhanInspiratif   #Challenge   #Aksara  #20Ramadhan1438H   #RamadhanBersenyawa   #RamadhanBersenyawa20

 

Dykuza Dalam Tulisan, Uncategorized

Berbagilah, Sebelum Berbagi itu ‘Dilarang’


19 Ramadhan 1438 H atau 14 Juni 2017, bertepatan dengan Hari Donor Darah Sedunia. Hmm, ngomong-ngomong tentang donor darah, saya memiliki pengalaman tersendiri.

Dulu, pertama kali berkeinginan mendonorkan darah adalah ketika masa-masa kuliah. Saat itu diajak oleh sahabat saya. Kami pun bergerak menuju klinik yang berlokasi di dekat kampus. Qadarullaah, sampai sana ditolak karena berat badan yang kurang dari 50 kg. Sahabat saya pun ditolak karena Hb-nya rendah. It’s okay, belum berjodoh, belum takdirnya. Ya, sesimpel itu.

Akhirnya saya pun berkesempatan untuk donor darah ketika bekerja di Bandung. Kala itu berat badan pas-pasan, namun, masih lolos seleksi karena tekanan darah dan Hb-nya normal. Alhamdulillaah. Rasanya deg-degan juga, karena baru kali pertama. Tangan sudah keringat dingin. Biasanya kalau saya nervous memang tangan mendadak jadi dingin. Sama seperti dulu zaman kuliah, tiap sebelum pre-test praktikum tangan mendadak dingin. Hmm, sudah dari sananya seperti itu. Hehehe 😀

Sebenarnya saya sempat ragu karena fisik saya yang seperti (kurus) ini apa bisa mendonorkan darahnya? Dengan modal bismillaah akhirnya bisa juga. So, ojo minder dulu, Dy! Hihi 🙂 Ternyata donor darah itu tidak melihat fisik seseorang kurus atau berisi, difabel atau tidak, yang penting lolos syarat untuk donor: berat badan minimum, tekanan darah juga Hb yang normal.

Mengapa saya ingin mendonorkan darah saya? Ya, karena saya punya prinsip hidup: khairunnaas anfa’uhum linnaas… Menjadi bermanfaat untuk siapapun, dalam bentuk kebaikan apapun, sekecil apapun. Terlebih, saya memiliki golongan darah AB yang termasuk langka. Selain itu, bisa jadi di kemudian hari saya yang membutuhkan donor darah dari orang lain. Bisa jadi, kan?

 

Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak.

Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat.

Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat.

Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya.

(HR. Muslim)

 

Mungkin saat ini kita dikaruniai kesehatan untuk bisa berbagi dengan yang lain, salah satunya dengan memberikan setetes darah kita untuk orang lain. Sesuai sebuah pesan salah satu PMI di Bandung: Share Blood, Give Life.

So, berbagilah, sebelum berbagi itu dilarang. Lho kenapa? Iya, karena jika ingin berbuat baik itu jangan ditunda, nanti menyesal kemudian. Hehehe 😀 Bukankah dalam berkebaikan kita diseru untuk berlomba-lomba?

Selamat berbagi kebaikan untuk semesta, Guys!

 

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[ QS. Al-Baqarah (2) :148 ]

 

Bandung, 16 Juni 2017 | Dyah Kumala Sari | @dykuza

 

Sebuah tulisan untuk: #RamadhanInspiratif   #Challenge   #Aksara  #19Ramadhan1438H   #RamadhanBersenyawa   #RamadhanBersenyawa19

 

Dykuza Dalam Tulisan, Hikmah

Layaknya Antrian yang Tak Pernah Tertib


IMG_1119
Jembatan Tua di Lava Bantal, Yogyakarta (Sumber: Dokumen Pribadi)

 

“Besok kita jadi bukber ya, di tempat yg kemarin udah aku reserved.

 Aku menutup aplikasi Line setelah memastikan teman segrup mengiyakan. Beralih ke aplikasi kalender: besok bukber jurusan, lusa bukber unit, weekend bukber SMA. Melewati tengah ramadhan, ajakan bukber masih saja padat. Sebelum pada pulang kampung katanya.

Namun malang, ternyata aku yang lebih dulu ‘pulang’.

Bukber hari itu ditiadakan.

Teman-temanku berombong datang ke rumahku. Teman dekatku menangis, yang lain matanya sembab.

Lalu apa?

Semua grup Line yang aku ikuti berisikan ribuan ucapan belangsukawa terindah.

Post berisikan wajahku dengan caption kenangan terbaik ramai memenuhi Instagram.

Oh, belum lagi ratusan notifikasi ucapan kangen dan tidak percaya aku telah tiada yang membludak di kolom komentar Instagramku.

Dan papan bunga dengan namaku yang berdiri di depan gerbang kampus tercinta.

Lihat, begitu banyak orang yang mencintaiku. Tidak sia-sia aku sering menghabiskan waktu bonding dengan mereka, bukan?

I wish I could say that.

Namun kehidupan akhirat nyatanya tidak seindah itu.

Ucapan belasungkawa, post Instagram, serta komentar kangen mereka di media tidak cukup kuat untuk menembus ke bawah tanah ini. Aku bahkan tidak tahu menahu itu ada.

Ratusan teman dan rekan di kampus katanya.

Aku di gelapnya kubur menunggu cahaya doa dari mereka-mereka yang lama kuhabiskan waktu dengannya.

Namun berapalah titik cahaya yang datang langsung dari doa di atas sajadah, bukan di atas keyboard?

Mungkin hitungan jari. Atau kurang.

 

Kemana kalian?

Bukankah kita sudah terlampau sering melakukan bonding bersama?

Bercanda dan terbahak bareng, nonton bareng, makan bareng, jalan bareng, kegiatan ini kegiatan itu, dan kau juga sudah menyebutku sebagai keluarga, ingat?

Atau memang selalu dan hanya akan sebatas ini sejak dulu.

Yang hidup di dunia akan tetap berkutat dengan dunianya.

Sedikit demi sedikit kenangan tentangku akan lenyap dihanyutkan kesibukan dunia.

Sebulan, setahun, lalu habis.

 

Dan tinggallah aku yang kan pergi mempertanggungjawabkan diri di akhirat.

Sendiri.

Kalaulah dahulu diperlihatkan seintip kehidupan akhirat yang nyata, pastilah aku akan memilih bonding dengan Sang Pencipta dibandingkan dengan makhluk-Nya.

Akan menggantikan belasan bukber yang sering tercampur bumbu ghibah itu dengan dzikir petang atau berkumpul dengan keluarga.

Akan menggantikan tidur sehabis subuh itu dengan dzikir pagi.

Akan menggantikan waktu marathon film itu dengan marathon hafalan Al-Quran.

Dan tentu tidak akan menyia-nyiakan bulan Ramadhan ini dengan amalan sekedarnya.

Bahkan tanpa diperlihatkan pun sebenarnya aku tahu, namun sering berpura lupa dan acuh mengabaikannya.

Hingga waktuku habis dan datanglah hari penyesalan ini.

Apalah artinya banyak tertawa bersama makhluk, jika menjadikan kita lupa untuk menangis kepada-Nya?

 

“Andai kalian tahu apa yang aku tahu, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Bukhari dan Muslim)

#selfreminder  #ceritapendek 

EPILOG:

Kudengar bukber di hari ‘kepulanganku’ itu diundur menjadi minggu depan. Tak ada yang berbeda, hanya berkurang satu kursi dari meja. Ternyata tanpaku pun mereka tetap bisa ramai dan banyak tertawa.

(Sumber: Pesan WhatsApp)

 ***

Hari ini saya diingatkan melalui pesan tersebut oleh rekan saya melalui aplikasi WhatsApp atau disingkat WA. Sebenarnya pesan berantai tersebut sudah dari kemarin masuk di beberapa grup WA. Namun, karena terlalu banyak grup, jadi artikel tersebut belum sempat saya baca secara menyeluruh. Mungkin teman-teman kebanyakan juga sudah membacanya.

Kemarin, hari ke-18 Ramadhan, kebetulan pas banget ceramah sebakda salat Dzuhur membicarakan tentang hal yang paling dekat dengan kita: kematian. Sang ustadz menyampaikan bahwa sejatinya kita semua sedang berada dalam antrian. Ya, antrian menunggu giliran kita untuk ‘pulang’. Dan dalam antrian tersebut tidak seperti antrian pada umumnya: siapa yang datang duluan, maka dia yang akan pulang terlebih dulu. Namun, tidak dengan kematian! Karena kematian tak peduli kamu datang, terlahir lebih dulu atau tidak. Jika sudah tiba waktunya, maka ia pun akan datang dengan sendirinya, tanpa permisi. Kematian adalah sebuah antrian yang ‘tidak tertib’. Ya Allah… Astaghfirullaah

Pesan tentang kematian sebenarnya sudah disampaikan oleh Allah Swt. melalui kalam-kalam cinta-Nya. Berikut adalah diantaranya.

 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

[ QS. Ali ‘Imran (3) : 185 ]

 

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.” Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).

[ QS. Yunus (10) : 49 ]

 

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

 [ QS. Luqman (31) : 34 ]

 

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.

[ QS. Qaf (50) : 19 ]

 

Kematian adalah sebuah keniscayaan. Lalu, adakah kita bercita husnul khotimah dalam menjemputnya? Sudahkah kita mempersiapkannya?

 

Allahumma inni asaluka husnul khotimah,

Ya Allah aku meminta kepada-Mu husnul khotimah.

 

Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut,

Ya Allah aku berilah aku rezeki taubat nasuha (sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat.

 

Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinik.

Ya Allah, wahai Sang Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.

 

 

Sebuah catatan kecil seorang yang mendamba husnul khotimah.

Bandung, 14 Juni 2017 | Dyah Kumala Sari | @dykuza

 

Sebuah tulisan untuk: #RamadhanInspiratif   #Challenge   #Aksara  #18Ramadhan1438H   #RamadhanBersenyawa   #RamadhanBersenyawa18

 

 

Dykuza Dalam Tulisan, Hikmah

Kekuatan Ukhuwah


“Ukhuwah itu bukan pada indahnya pertemuan, bukan pula pada manisnya ucapan di bibir, tetapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doa.”

(Al-Ghazali)

 

Berbicara tentang ukhuwah selalu saja menyejukkan hati. Iya, tentang ikatan persaudaraan tersebab iman. Meski tak pernah jumpa sebelumnya, namun bisa saling memahami. Adakah ikatan yang lebih indah selain ukhuwah tersebab iman kepada Allah? Tersebab Allah-lah kita saling memahami; tersebab Allah, kita saling mencintai; bahkan, ketika harus membenci pun dilakukan tersebab Allah Swt. Masyaa Allah.

Kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman saya bertemu dengan saudari-saudari seiman yang berhasil memberikan kekuatan tersendiri bagi saya. Pertemuan yang indah, tersebab iman, melalui Al-Qur’an. Awal pertemuan kami adalah dalam sebuah komunitas yang bernama ODOJ, One Day One Juz. Meski sekarang sudah tidak berada dalam grup yang sama, namun, pertemuan dengan mereka adalah sebuah momen yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. *Tsaaaah 😀

Jadi, sekira dua tahun yang lalu, awal Januari 2015, kami bersepakat untuk meet-up di Jakarta. Saat itu kebetulan saya juga akan menghadiri walimah salah seorang teman kuliah di daerah Serpong, Tangerang Selatan. Jadilah: sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Hehehe. Sehari sebelum walimah tersebut, saya pun menyempatkan untuk meet-up bersama teman-teman ODOJ. Kami berempat: saya, Anis, Andri, dan Lia. Saya berangkat bersama Anis, karena beliau juga domisili Bandung. Sedangkan Lia dan Andri, masing-masing berdomisili di Jakarta dan Bogor. Kami berencana untuk bertemu di Masjid At-Tin, Jakarta Timur.

Saya bersama Anis bertolak dari Bandung menggunakan Argo Parahyangan dengan jam keberangkatan paling pagi (kalau nggak salah ingat… Wkwk). Kami sudah merencanakan akan turun di Stasiun Jatinegara. Lia yang akan menjemput kami di sana. Sedangkan Andri akan menyusul di Masjid At-Tin.

Sesampainya di Stasiun Jatinegara, ternyata Lia sudah menunggu kami di sekitaran pintu keluar stasiun. Ini adalah pertemuan pertama kami bertiga. Kalau saya pribadi dengan Anis, kala itu adalah pertemuan ketiga. Sebelumnya kami sudah pernah bertemu di Masjid Salman dan ketika prosesi wisuda Anis di Sabuga. Kami bertiga memang baru kenal melalui perantara ODOJ. Sebelumnya belum pernah kenal sama sekali.

Karena memang besoknya akan ke walimah, maka barang bawaan saya pun agak rempong. As usual, bawaannya rada ribet. Postur badan yang mungil dengan tas ransel yang gede plus tas selempang untuk ke kondangan. Itulah saya. 😛

Petualangan dimulai. Kali ini Lia yang menjadi pemandunya. Untuk menuju ke Masjid At-Tin, kami memilih menggunakan busway kemudian sambung dengan angkot. That was my first time naik busway. Yup, pengalaman pertama saya menumpangi busway. Berasa cupu. Haha! Ongkos busway dibayarin sama Lia. Alhamdulillaah, yeay! #BerkahUkhuwah

Yang menjadi masalah adalah, ternyata menuju koridor busway dari stasiun itu jalannya lumayan butuh effort, apalagi bagi saya yang jarang olahraga. *Duh, ketahuan deh. Hehe. Harus melewati jalan khusus di mana ada ‘tanjakan’ di titik tertentu. Huhah! Tambah effort karena ‘beban’ yang saya bawa cukup berat. Yang penting bukan beban hidup. Kekekek. Meski Anis sudah menawari untuk bertukar tas, namun, saya tidak mau merepotkannya. *Salah sendiri, sudah tahu mau main malah bawa tas kegedean sih kamu, Dy!

Finally, kami pun sampai di Masjid At-Tin. Sambil menunggu Andri datang, kami pun menyempatkan sarapan terlebih dahulu di sekitar masjid. Lumayan juga jalan kaki sejak turun dari angkot menuju masjid. Belum lagi masuk ke lingkungan masjid yang cukup luas. Semangat, Dy! Btw, Andri itu akhwat lho, ya. Saya biasa panggil Andreu malahan. Dan si doi oke-oke aje. 😀

Akhirnya Andreu datang menjelang waktu salat dzuhur. Setelah selesai salat, kami pun berencana untuk jalan ke TMII alias Taman Mini Indonesia Indah. Ingat, jalan, Dy! Sebenarnya Andreu bawa motor, sih. Tapi, kan, kami berempat. Nggak muat, kan? Hehe. Akhirnya kami pun berjalan kaki menuju TMII. Whoaaa, ini lebih funtastic lagi ternyata. Jauhnyaaaa, Masyaa Allah. Mungkin yang sudah pernah bisa membayangkannya, ya. Jarak antara Masjid At-Tin dengan TMII saja sudah lumayan jauh menurut saya. Itu pun belum ditambah lagi masuk ke TMII-nya dari jalan raya utamanya, lho.

Sepanjang perjalanan punggung rasanya luar biasa pegel, ditambah menggendong tas se-gede gaban. Btw, gaban teh naon, ya, sebenarnya? 😛 Pokoknya tasnya gede lah, ya. Rasanya pengalaman tersebut adalah pengalaman saya jalan kaki terjauh dengan membawa beban seperti itu. Nanti nggak lagi-lagi deh, ya. Kasihan si skolinya. Hehehe.

But, it’s worth it! Pengalaman berharga banget! Mungkin kalau dari awal dikasih tahu bakalan seperti itu, saya udah give up duluan. Sudah nggak pede sama kemampuan fisik sendiri. Tapi hari itu membuktikan bahwa saya bisa melewatinya. Ditambah setelah itu masih harus melanjutkan perjalanan menuju Serpong dengan bus dan sambung angkot lagi.

Hmm, ternyata benar juga, ya, kalau ada yang bilang bahwa ketika kita merasa tidak kuat, kadang kekuatan itu bisa kita peroleh dari orang-orang yang mengelilingi kita. Kalau kata Mbak Sita, “Dek, Say, kadang kekuatan itu berasal dari teman-teman yang mengelilingi kita.”

Tahu kenapa seperti itu? Karena bisa jadi imanlah yang kemudian menumbuhkan cinta diantara hamba-hamba Allah, dan cinta itulah yang menjelma menjadi kekuatan. Cinta karena Allah Swt.

Maka duhai kalian, terima kasih, ya,  untuk pengalaman berharganya. Ah, rindu untuk kembali bersua dengan kalian. Sepenuh cinta.

Aku mencintaimu karena Allah, dengan cara yang diridhai Allah, untuk menggapai ridha Allah.

(Salim A. Fillah)

 

 

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

[ QS. Ali ‘Imran (3) : 103 ]

 

Bandung, 13 Juni 2017 | Dyah Kumala Sari | @dykuza

 

Sebuah tulisan untuk: #RamadhanInspiratif   #Challenge   #Aksara  #17Ramadhan1438H   #RamadhanBersenyawa   #RamadhanBersenyawa17

 

Dykuza Dalam Tulisan, Hikmah

Diskon 100%!


Di hari ke-16 bulan yang penuh keberkahan ini, saya memperoleh kesempatan belajar tentang Wealth Management. Saat itu materi disampaikan oleh Kang Muhammad Wahyudin atau akrab disapa Kang Way. Fokus materi adalah pada judul Financial Rontgen. Wuih, ternyata nggak cuma si skoli aja yang perlu di-rontgen, ya. Hehe.

Benar ternyata bahwa apa-apa dalam kehidupan ini perlu di manage supaya teratur. Hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah GOAL atau TUJUAN hidup kita.

 

“Salah satu alasan kenapa orang tidak mendapatkan apa yang mereka mau adalah karena mereka tidak tahu apa yang mereka mau.”

 

Nah, yang menjadi masalah, seperti apakah goal yang selama ini kita idam-idamkan? Apakah hanya untuk duniawi saja? Atau untuk ukhrowi juga? Untuk kita pribadi? Atau juga untuk keluarga, lingkungan sosial, dan juga untuk umat?

Karena topiknya mengenai finansial, maka pada pertemuan tersebut tidak luput dari pembahasan mengenai uang. Kang Way saat itu memberikan pertanyaan kepada peserta tentang diskon. Hayo, siapa yang tidak suka sama yang namanya diskon? Ngaku aja, ayo ngakuuuuu… Wkwkwk. Pada umumnya sih sebagian dari kita tertarik dengan adanya diskon. Iya, kan? Walau tak menutup kemungkinan beberapa orang juga tidak begitu melirik sama yang namanya diskon, ya. Hehe.

Sebagai contoh, ketika sebuah barang diberi label diskon 70%, lalu kita membelinya, maka kita akan memperoleh potongan sebesar 70%. Namun, bisa jadi untuk sebagian orang akan memperoleh diskon sebesar 100% ketika memutuskan untuk tidak membeli barang tersebut. Lho, kok bisa? Yup, karena ketika dia membeli barang tersebut, ternyata dia tidak benar-benar membutuhkannya yang pada akhirnya barang tersebut menjadi useless. Orang tersebut hanya menginginkan diskonnya, tetapi tidak membutuhkan barangnya. Namun, ketika dia tidak membelinya, maka dia justru untung 100% karena tidak membeli barang yang dia sendiri tidak membutuhkannya. Selain itu uangnya juga aman terkendali, bisa digunakan untuk membeli barang yang lebih ia butuhkan. Hehe. Ini adalah tentang pemenuhan needs dan wants. Dan kebanyakan dari kita masih ter-mindset dengan adanya diskon-diskon tersebut.

Tentang finansial, khususnya membahas mengenai uang, maka sudah seharusnya kita yang menjadi majikan, bukan sebaliknya. Kitalah yang menjadi pilot yang membawanya ke mana uang itu akan berlabuh. #tsaaaah 😀 Kitalah yang seharusnya dapat membedakan mana yang termasuk needs dan mana yang sekadar wants.

So, selamat menjadi bijak dalam bersikap, khususnya dalam me-manage keuangan. Saya pernah mendengar kalimat bijak seperti ini: berapapun rezeki yang Allah beri untuk kita akan selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun, tak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup.

  

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

[ QS. An-Huud (11) : 6 ]

 

dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,

[ QS. An-Najm (53) : 48 ]

 

Bandung, 13 Juni 2017 | Dyah Kumala Sari | @dykuza

 

Sebuah tulisan untuk: #RamadhanInspiratif   #Challenge   #Aksara  #16Ramadhan1438H   #RamadhanBersenyawa   #RamadhanBersenyawa16

 

Dykuza Dalam Tulisan, Hikmah

Karena Allah yang Memampukanmu #2


IMG_2400
Lokasi Wisata Tangkuban Parahu

 

Bandung banyak menginspirasi saya untuk berbagi cerita pada kesempatan bulan yang mulia ini. Bersenyawa. Banyak kejadian yang rasanya nano-nano. Hehe. Tak jarang sekarang menemukan sebuah jawaban, “Ooo, ternyata begini, ya. Ooo, ternyata begitu, ya.” 😀

Pernah pada suatu saat, tepatnya dua tahun yang lalu, saya lagi-lagi memperoleh kesempatan untuk berguru langsung dengan salah seorang master XRF atau X-Ray Fluorescence. XRF adalah salah satu alat analisis berbasis iptek nuklir yang ada di laboratorium kami. Saya dulu sih nggak suka sama yang namanya pelajaran kimia, apalagi fisika. Alasannya simpel, karena saya nggak mudeng sama dua mata pelajaran itu. Zaman SMA saja ujian kimia pernah remidi. *Upsss… Hehehe. Namun, qadarullaah, Allah tempatkan saya kuliah dan bekerja dengan XRF yang notabene fisika pisaaaaaan. Fisika bingitssss… Dan sekarang baru ngerasa bahwa benar, ya, pesan cinta dari Allah Swt. berikut ini.

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

 [ QS. Al-Baqarah (2) : 216 ]

Oke, kembali ke cerita awal, tentang belajar XRF dengan master-nya. Saat itu laboratorium kami kedatangan salah seorang expert dari IAEA (International Atomic Energy Agency) yang bernama Mr. Andreas Germanos Karydas. Hasil ngulik, ternyata beliau berasal dari Physics Section, Division of Physical and Chemical Sciences, Department of Nuclear Sciences and Applications, IAEA, Vienna, Austria. Tuh, kan, physics bangeeeet. 😀

Saya akui, pengetahuan beliau tentang XRF nglothok banget! Ya iyalah, namanya juga expert, Dy! Beliau hafal di luar kepala energi-energi eksitasi sinar-X. Wah, sudah tentu mumet bin njlimet kalau saya. Haha 😛

Pengalaman menarik bersama beliau adalah ketika saya diamanahi untuk menjemput beliau ke hotel tempat beliau menginap di daerah Cihampelas. Saat itu ibu-ibu dan mbak-mbak sepertinya sedang riweuh mempersiapkan yang lainnya sehingga jadilah saya yang diminta untuk menjemput bersama supir kantor. Whoaaa, siapkan English-mu, Dy! Saatnya beraksi! Wkwkwk.

Saya pun bersama salah seorang supir kantor bergeas menuju hotel. Sesampainya di hotel, saya harus menghubungi bagian resepsionis untuk memanggilkan Mr. Andreas Karydas. Tidak lama menunggu, akhirnya Mr. Andreas keluar juga dengan gaya beliau yang casual pada saat itu. Kami pun langsung kembali ke kantor. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang cukup, saya berhasil mengajak beliau ngobrol. Hingga pada akhirnya sekira 800 meter sebelum sampai kantor, beliau bilang ke saya, “I wanna go to money changer.” Duh, Mister, ini kan udah mau nyampe, kok nggak dari tadi. Huffft. Saya pun berpikir keras. *Hwalah. Sambil berdiskusi dengan supir, akhirnya kami pun memutuskan untuk mencoba ke salah satu bank yang berlokasi di dekat kantor.

Saya turun terlebih dahulu untuk memastikan apakah bisa dilakukan penukaran mata uang asing atau tidak. Alhamdulillaah, ternyata bisa. Lalu saya mengajak Mr. Andreas untuk memasuki bank tersebut. Kami duduk sebentar, kemudian diarahkan oleh security untuk menuju ke salah satu teller. Petugas teller meminta data diri Mr. Karydas. Beruntungnya beliau sudah menyiapkan paspor beliau. Semua isian form saya isi sebisanya sambil nervous. Haha. Finally selesai juga urusan tukar-menukar uang. “Thank you, Dyah. Nice to meet you.” kata beliau.

Okay, satu tugas tertunaikan. Alhamdulillaah.

***

Cerita lainnya adalah ketika hari berikutnya kami menemani beliau untuk tour ke Tangkuban Parahu dan sekitaran Kota Bandung. Momen yang tak terlupakan karena saat itu tepat tanggal 1 Ramadhan 1436 H. Puasa hari pertama yang menantang bagi saya karena pada saat berada di Tanguban Parahu, kami harus berjalan menyusuri jalan setapak menuju lokasi Air Cikahuripan yang jalannya lumayan menanjak. Yap, menanjak! Sudah lemeeesss duluan. Hehehe. Mungkin bagi yang lainnya sih biasa-biasa saja. Tapi, tidak untuk saya. Dan benar saja, saya berada di garda paling belakang barisan. Haha. Sambil ngos-ngosan, jalan sempoyongan plus asal duduk di tanah karena sempat tidak kuat naik. Wkwkwk. Jangan ditanya kalau pergi ngajak saya ke lokasi pegunungan. Kudu sabar, yow! Hehe 🙂

Tapi saya bersykur, puasa pertama aman terkendali. Alhamdulillaah.

***

Well, mungkin cerita ini terkesan biasa-biasa saja untuk sebagian orang. Tapi bagi saya, selalu ada pesan tersirat dari setiap kejadian yang saya alami, terutama tentang keyakinan. Karena saya terkadang merasa minder dengan kemampuan saya, lupa kalau ada Allah yang selalu menguatkan. Bukankah semuanya sudah dirancang sebaik mungkin, kan, oleh Allah Swt.? Masyaa Allah. Terima kasih, Allah. Terima kasih, Bandung. Baarakallaahu fiikum. 🙂

 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

 [ QS. Al-Baqarah (2) : 286 ]

 

Bandung, 11 Juni 2017 | Dyah Kumala Sari | @dykuza

 

Sebuah tulisan untuk: #RamadhanInspiratif   #Challenge   #Aksara  #15Ramadhan1438H   #RamadhanBersenyawa   #RamadhanBersenyawa15

Dykuza Dalam Tulisan

Karena Allah yang Memampukanmu #1


IMG_3581
Wirawisata Goa Pindul

 

Don’t wish for it. Work for it.

(Anonymous)

Dalam cerita kali ini, izinkan saya mengajak teman-teman bergerilya dengan pengalaman saya di tiga tahun yang lalu. Jadi, begini ceritanya. Hwalah, kadang kagok lho mau memulai cerita, teh. Hehehe.

Sekira tiga tahun yang lalu ada mahasiswa yang melakukan internship atau kerja praktek di laboratorium kami. Sebenarnya setiap tahunnya juga ada sih. Namun, kala itu yang menjadikan berbeda dari tahun-tahun biasanya adalah karena mahasiswanya berasal dari negeri tetangga, Thailand. Mereka berasal dari Khon Kaen University. Selama bekerja di Bandung, baru kali itu saya berkesempatan menemani mereka selama di laboratorium. Sudah barang tentu dengan skill English saya yang pas-pasan lah, ya. Hehe. Eh, tapi mereka pun juga sama sih. Jadi, kadang kita sama-sama roaming hingga pada akhirnya komunikasipun ditambah menggunakan bahasa verbal. Sing penting I know, you know when we talked each other. Haha 😛

Nah, ada tiga mahasiswi yang berkesempatan internship di lab kami kurang lebih selama empat bulan. Mereka adalah Pla, Noo, dan Waan. Pengalaman yang lebih menarik ketika bersama mereka adalah ketika saya diamanahi untuk menjadi guide mereka. Lho, kok bisa jadi guide?

Jadi, begini. Mereka bertiga beragama Budha, agama mayoritas di negeri mereka (*CMIIW yaa…). Mereka mendapat cerita dari dosen di kampusnya bahwa di Indonesia terdapat Candi Budha terbesar, yaitu Candi Borobudur. Nah, mumpung berada di Bandung, mereka pun penasaran tertarik ingin berkunjung ke sana. Akhirnya mereka pun menyampaikan keinginan mereka kepada pembimbing dan diizinkan untuk ke sana.

Berhubung saya orang Jogja, maka saya pun ditugaskan untuk mendampingi mereka selama di berada di Jogja. Why Jogja? Ya karena lokasi Candi Borobudur ada di Magelang, dekat dengan Jogja. Waktu itu saya masih ditemani rekan berjuang saya, Neng Wulan. Sekarang doi sudah hijrah dan sudah ada yang punya. Hihihi 😀

Walhasil saya pun diminta untuk membuat planning selama berada di Jogja. Itung-itung jadi EO lah ya. Semuanya saya rancang sendiri. Nanti tinggal mengajukan berapa dana yang dibutuhkan. Ini benar-benar ‘dinas’ yang menyenangkan! Dinasnya jadi guide sambil liburan plus pulang kampung, Disubsidi pulaaak. Ahay! 😀  Tapi yang disubsidi, ya, pegawainya aja lho, mahasiswanya mah yarwe-yarwe alias bayar dewe-dewe, bayar sendiri-sendiri. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Berhubung ada empat orang yang harus saya temani selama di Jogja dan saya belum bisa nyetir mobil sendiri, maka saya memutuskan untuk menggunakan jasa salah satu agen tour di Jogja. Saya mengambil paket 3D2N, Three Days Two Nights. Saya pun juga harus mempersiapkan ticketing­-nya. Awalnya sempat ragu. Ya Allah, apa saya bisa mendampingi mereka sendirian? Secara, Neng Wulan juga baru pertama kali pergi ke luar kota untuk jarak jauh. Dianya manut-manut aja kalau ditanya. Wkwk. Akhirnya dengan modal Bismillaah, saya pun menjalaninya.

Selama di sana kami mengunjungi beberapa lokasi wisata: Goa Pindul, Pantai Krakal dan Kukup di Gunungkidul, Pusat Kerajinan Perak di Kotagede, Tamansari, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Malioboro, tujuan utama: Candi Borobudur, Lava Tour Merapi, salah satu rumah produsen batik, dan juga Rumah Makan Jejamuran. Yang terakhir mah bukan lokasi wisata, sih. Hanya melengkapi saja. Hehehe.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA         OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana ketika mereka beribadah: mengelilingi bangunan candi paling atas tanpa alas kaki

 

Ternyata ‘mengurus’ mereka sendirian punya cerita tersendiri. Ada saat dimana harus mengambil keputusan secara mandiri: ini dulu, baru itu, iya atau tidak. Kemudian selama di Jogja, mereka menginap di sebuah hotel di daerah dekat terminal lama, dekat dengan XT-Square kalau sekarang. Kami memesan dua kamar. Sebenarnya saya satu kamar dengan Neng Wulan. Namun, karena saya berada di Jogja, maka saya memutuskan untuk menginap di rumah orangtua. Sengaja saya request hotel yang jaraknya tidak cukup jauh dari rumah orangtua. So, risikonya, ya, saya kudu bolak-balik rumah-hotel. Sing penting tetap tidak ketinggalan momen bareng keluarga dong, ya. Hehe.

Selain itu ada salah satu dari mereka yang butuh perhatian khusus. Haha. Ketika perjalanan menuju pantai di Gunungkidul-namanya juga jalan pegunungan kan, ya, pasti jalannya berkelok-kelok-, ternyata si Neng Noo mabuk darat. Whoaaa, terus saya kudu gimana nih? Akhirnya mobil berhenti sebentar. Setelah dirasa kondisi sudah lebih baik, kami pun melanjutkan perjalanan. Selain itu di hari ketiga dia ternyata meriang, tidak mau ikut sarapn di hotel. Malah nangis di kamar. Duh, njuk aku kudu kepiye iki? Haha. Kata si Waan, Neng Noo memang hatinya very sensitive. Biarkan saja dia sendirian dulu, dia juga sudah membawa obat pribadi. Akhirnya kami menunggu sampai kondisi Neng Noo sedikit membaik, lalu meneruskan penjelajahan. Sayang banget, kan, sudah sampai di Jogja tapi tidak dimaksimalkan mainnya. Ehehe.

Menjadi guide untuk mereka merupakan salah satu pengalaman yang sangat berharga untuk saya. Berinteraksi dengan mahasiswi yang berlatarbelakang budaya yang berbeda, bisa mengenalkan budaya Indonesia, khususnya yang ada di Yogyakarta. Seru! It’s worth it! Kadang kita berpikir kita tidak akan sanggup mengemban amanah yang diamanahkan kepada kita. Tapi, setelah dijalani ternyata bisa juga, ya. Intinya mah, kerjakan saja sesuai kemampuan kita. Karena Allah yang memilih peran tersebut untuk kita. tentunya melalui orang-orang baik di sekitar kita. Bukankah Allah tidak membebani melainkan sesuai kemampuan kita? 😀 🙂

 

Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.

[ QS. Al-Ahqaf (46) : 19 ]

 

Bandung, 11 Juni 2017 | Dyah Kumala Sari | @dykuza

 

Sebuah tulisan untuk: #RamadhanInspiratif   #Challenge   #Aksara  #14Ramadhan1438H   #RamadhanBersenyawa   #RamadhanBersenyawa14